Orang yang paling bisa menyakiti diri kita adalah orang terdekat.
Dan orang yang paling sering kita sakiti adalah orang terdekat.
Catatan harian orang biasa...yang mengalami kejadian-kejadian yang (juga) biasa-biasa aja....
Orang yang paling bisa menyakiti diri kita adalah orang terdekat.
Dan orang yang paling sering kita sakiti adalah orang terdekat.
Selamat hari blogger
Untuk para blogger dan yang sedang Mencoba jadi blogger. atau pernah jadi blogger
Tetap semangat membaca
Tetap semangat menulis
Mulai jenuh rasanya menghadapi ritme kerja kantor dan mood orang2 yang naik turun. Semenjak ada edaran rolling 20an karyawan. Hawa kantor panassss banget rasanya. Memangnya kompor 😂
Ada yg seneng karena dipindah ke bidang lain.
Tapi gak sedikit juga yang mutung katena merasa dirinya tidak sepantasnya dipindah. Merasa dipindah karena faktor dislike atasan.
Trus sambung menyambunglah acara sindir sana sindir sini setiaaap hari.
Belum lagi makian makian gak penting yang terpaksa terdengar padahal gak pengen denger.
Sempet berangkat pelatihan 5 hari ke Semarang tu rasanya seneng. Refreshing. Dan aku pikir sih balik2 dari semarang sudah adem suasananya. Ternyata eh ternyata. Masih sodara 😅😅
Gaji gak nyampe 3juta dan harus mendengarkan orang nyampah tiap hari itu rasanya amat sangat tidak sepadan jendral!! 😩😩😩
Tapi yah diem aja deh. Jangan memperkeruh suasana. Kata om mario teguh jangan turunkan levelmu.... 😇😈
We'll see next week
Masih gak kayak gini suasananya
Ps attach foto narsis untuk mengademkan hati (sendiri) 😜
Jarang banget aku baca dan nonton berita. Jadi banyak gak tau update berita-berita terkini. Tapi kemaren sempet liat postingan di fb soal ibu yang lagi berduka karna anaknya baru aja meninggal dunia karena kena infeksi saluran pernapasan.
Habis itu nontonlah tv dan googling2 berita soal kabut asap ini. Astaghfirullah sedihnya. Negara ini bener-bener darurat ya. Bapak-bapak dan ibu-ibu pemimimpin negara ini. Bagaimana pak, bu? Adakah yang bisa dilakukan?
Samarinda kerasa juga sih asapnya. Tapi sedikit aja. Sedikiiiiiiiit banget kalau dibandingin sama apa yang dirasain orang-orang di riau, jambi dan sekitarnya. Dan mereka mengalami itu hampir tiap tahun? Berapa lama? *ngelusdada*
Ya Allah aku yang ngerasain asap tipiiis ini beberapa minggu aja kadang ngerasa pulang kerja tu sesek gitu. Gimana mereka? Gak bisa ya ada solusi instantnya? Masa masalah udh berbulan-bulan gini bukannya beres malah makin parah?
Aku juga nulis ini gak ngasih solusi sih. Gak juga mengurangi apa yang mereka rasakan disana. Cuma bisa mengiringi tulisan ini dengan doa buat saudara saudara disana semoga diberi kekuatan dan kesehatan. Dan semoga tidak ada lagi keluarga yang harus kehilangan karena ini. Tidak perlu adalagi anak-anak yang terenggut kesempatannya untuk bermain bebas diluar. Untuk belajar kembali di sekolah-sekolah mereka.
Semoga anak-anak disana bisa segera bermain di luar rumah dengan udara yang bersih dan menyegarkan. Tanpa asap.
Semoga pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab atas kabut ini bisa mendapatkan balasan setimpal. Semoga pihak-pihak yang bisa menyelesaikan permasalahan ini bisa bekerja dengan cepat dan dimudahkan hingga terselesaikan permasalahan ini. Siapa aja. Gak perlu pemerintah kalau memang mereka tidak bisa cepat tanggap. Siapa aja yang bisa....
Dan kedepannya semoga pemerintah bisa lebih tanggap mencegah hal-hal seperti ini agar tidak perlu terjadi lagi.
Ya Allah ampuni kami
Kami terlalu banyak berbuat kerusakan di bumi ini. Berilah kami kesempatan ya Allah. Untuk dapat terus memperbaiki diri kami. Memperbaiki lingkungan kami. Memperbaiki negeri ini. Amin ya rabbal aalamin.
*randomnotessambilnunggusuami*
#saveindonesia
#indonesiatanpaasap
#saveriau #savejambi #selamatkanhutan
#stoppembakaranlahan
Okay this is what I do (almost) in every meeting
First 5 minutes pay attention
Eat snacks
Drink
Write words from the speakers
Write some random questions and suggestions (that I just write them down-never ask-yet)
Doodling
Next 5 minutes grab my phone and google words I couldn't understand even almost never finished reading all my Google's searching results
Open detik. Flippboard. And some others news apps just to kill the boringnes
Open socmed (ig, fb, path, wa)
Start chatting in group
Start personal chatt
And lost the content of the meeting
#hope my bosses never read this
Setiap orang yang mempunyai anak pasti memiliki kebanggaan terhadap anaknya. Begitu juga sebaliknya, seorang anak akan memiliki kebanggaan tersendiri menjadi anak dari orang tuanya. Hedeh, apasih blog ini. gak jelas pembukaannya. wkwkwk
Edisi galau sebenernya, aku gak tau mau kasih openingnya gimana tentang curhatan yang satu ini. haha. Kebanggaan seorang anak kepada orang tuanya khususnya bapaknya ada 2 jenis;
1. Kebanggaan terhadap kemampuan atau prinsip orang tuanya (misalnya: ortu sabar, pintar, ortu berpendidikan tinggi, berprinsip kuat, dll).
2. Kebanggaan terhadap "sesuatu" yang dimiliki orang tuanya (misalnya: kekayaan, kepopulerannya, jabatan, dll).
Tapi kebanggaan yang dimiliki itu seharusnya bisa menjadikan semacam motivasi untuk menjadikan diri kita sebagai orang yang bisa menyamai atau lebih baik dari apa yg orangtua kita miliki.
Oke. Enough with the long explanation. Keburu tidur yang baca ntar 😂 .
Sudah jadi perkara umum sebenarnya di Indonesia ini (bukan rahasia umum) soal kolusi dan nepotisme yang meng-akut dan mendarah daging.
Apalagi ditempat kerja yang sekarang. It's fine sih menurutku. Ya gak papa juga kamu minta tolong bapak atau om ato kenalan buat bantu masukkan kerja. Daripada minta tolong dukun kan jatohnya syirik. Hehe. Tapi that's it. Cukup sampai disitu kan. Dibantu masuk ditempat kerja. Selanjutnya saatnya untuk kerja. Iya kerja. Apalagi?? Bukan saatnya sibuk ngetang ngeteng plank bertuliskan "gue anak pak Anu" atau semacamnya dijidat.
Justru sebenernya orang2 yang "dititipkan" itu punya tanggung jawab yang besar. Beban moral. Gimana caranya ngebuktiin kalau sebagai "titipan" punya kelebihan. Punya kemampuan dan etos kerja yang bisa dibanggain. Bisa kerja keras dan kerja cerdas. not just another spoil brats.
Tapi apa yang sering aku dapatin malah sebaliknya. Kerja seenak udel dengan ritme sekehendaknya. Trus kalau ada masalah atau merasa kerjaan overload mulai bawa-bawa nama bapak, om, kakak ato siapa aja yg bisa digendelin. Capek. Lha mau sampe kapan saudara saudari bawa2 nama orang? Mau sampai kapan baru memutuskan untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Pernah suatu ketika ada kerjaan gak beres. Marahlah si bos ke bawahan2nya. Kalo dari sudut pandangku, marahnya sih masih biasa aja. Sekadar mengingatkan begini lo harusnya kerja. Dan belum sampe yang balik2 meja atau teriak2. Hehe (emang kamu dat).
Dan tu bocah2 yang diomelin gak terima. Ujung-ujungnya ada lagi yang nyeletuk. "coba deh, liat aja ntar aku bilang sama bapakku suruh anak buahnya bla bla bla..... " 😥😥
*dan aku pingsan*
#notetomyself (jangan sampe kamu kaya gitu daaaaat) 😴😴😴